Jakarta (.Metro IDN)
Lokus Adat Budaya Batak (LABB) telah menyelenggarakan peluncuran dan diskusi bedah buku “Ruhut-Ruhut Adat Batak Toba di Jabodetabek (Cetakan 2)”, bertempat di Auditorium Universitas Mpu Tantular, Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Dengan mengusung tema “Refleksi Budaya Batak di Era Modern”, dalam acara diskusi itu tampil sebagai pembicara utama atau keynote speaker Menteri Kebudayaan RI, Prof Dr Fadli Zon.
Menteri Kebudayaan menegaskan, kebudayaan nasional termasuk adat istiadat Batak, merupakan kekayaan atau modal budaya (cultural capital) yang tidak ternilai, sejajar dengan sumber daya alam.
“Kita ingin budaya ini menjadi engine of growth, menjadi ekonomi budaya dan industri budaya. Dalam hilirisasi budaya, hak kekayaan intelektual (IP) serta indikator geografis dari tenun ulos, misalnya, harus dikembangkan menjadi bagian dari fesyen global seperti halnya ekosistem batik saat ini,” ungkap Fadli Zon di hadapan ratusan peserta, sebagaimana dikutip media ini dari hariansib.com, Sabtu (27/6/2026).
Fadli menyoroti besarnya potensi penetrasi budaya Batak melalui industri kreatif kontemporer. Ia mencontohkan kesuksesan luar biasa dari film komedi “Agak Laen 2” yang kental dengan nuansa dan aktor Batak.
Menurutnya, film tersebut berhasil mencetak sejarah dengan meraih 11 juta penonton, mengalahkan rekor yang sebelumnya dipegang oleh film animasi “Jumbo” (10,2 juta penonton) pada tahun 2025 dan “KKN di Desa Penari” (9 juta penonton).
Pendekatan Konsep 3E untuk Generasi Modern
Ketua Umum Dewan Mangaraja LABB, Dr Pontas Sinaga, MSc menjelaskan buku pedoman ini diterbitkan untuk menjawab tantangan zaman.
Tingginya tingkat urbanisasi dan tuntutan efisiensi di Jabodetabek sering kali membuat pelaksanaan adat dipandang rumit dan berbiaya besar oleh generasi muda.
Oleh karena itu, LABB menawarkan “Konsep 3E” dalam pelaksanaan adat yaitu, pertama Esensial yaitu Menjaga nilai-nilai inti adat warisan leluhur agar maknanya tidak hilang atau berkurang.
Kedua, Efektif yaitu memastikan pelaksanaan adat mencapai tujuan dan memberikan manfaat nyata bagi solidaritas kekerabatan masyarakat.
Ketiga, Efisien yaitu menyesuaikan pelaksanaan adat agar lebih hemat biaya dan waktu sesuai kondisi masa kini, tanpa mengurangi kehormatan adat itu sendiri.
“Konsep 3E bukanlah upaya mengurangi martabat adat Batak. Sebaliknya, ini adalah ikhtiar untuk memastikan agar adat tetap hidup, relevan, dan dapat diwariskan kepada anak-anak muda kita di masa depan,” tegas Dr Pontas Sinaga.
Ketua Panitia, Drs Bernhard MH Siregar, mengungkapkan rasa bangganya atas kehadiran Menteri Kebudayaan serta antusiasme peserta yang membludak.
Ia melaporkan acara ini mencatat rekor kehadiran terbanyak dari seluruh kegiatan LABB, yakni mencapai 354 orang dari berbagai perwakilan marga se-Jabodetabek.
Buku pedoman ini sebelumnya telah diluncurkan pada cetakan pertama di tahun 2019 saat LABB dipimpin oleh Brigjen TNI Purn Berlin Hutajulu, yang kini menjabat sebagai Ketua Penasihat Dewan Mangaraja LABB.
Pada acara kali ini, diselenggarakan pula sesi bedah dan resensi buku yang diisi secara langsung oleh tokoh Batak, Prof Dr Payaman J Simanjuntak.
Ketua Umum DPP LABB, Kol TNI Purn Nasib Simarmata menutup acara dengan mengajak seluruh hadirin untuk bersatu mengimplementasikan prinsip 3E demi melestarikan adat.
“Mari bergandengan tangan menjunjung adat budaya Batak, karena ini adalah harta berharga bangsa Batak. Jangan kita cederai, mari kita kembangkan,” pungkasnya.(red/snn)

















