Medan (Metro IDN)
Tim SAR gabungan menghentikan pencarian Chistoper Rustam Muda Dua (21), mahasiswa Universitas Katolik (Unika) Medan dan juga calon pastor yang tenggelam di kawasan Air Terjun Situmurun, Lumbanjulu, Toba, Sumut.
Penghentian dilakukan setelah tujuh hari dilakukan pencarian, namun korban belum ditemukan.
“Hari ini, hari tujuh, pencarian korban dihentikan oleh petugas gabungan. Korban belum juga ditemukan,” kata Kasi Humas Polres Toba Ipda Khairudin Sukriyatno, sebagaimana dikutip dari detik, Minggu (19/4/2026).
Khairudin mengatakan, penghentian pencarian itu dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku, mengacu pada Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 Pasal 34 tentang Pencarian dan Pertolongan.
Dalam aturan tersebut, operasi pencarian dapat dihentikan apabila sudah berlangsung selama tujuh hari dan belum membuahkan hasil.
Selama proses pencarian, tim gabungan telah menyisir permukaan Danau Toba di sekitar lokasi terakhir korban terlihat. Berbagai upaya dilakukan untuk menemukan korban.
“Petugas juga melakukan penyelaman hingga kedalaman 50 meter. Selain itu, pemantauan dari udara menggunakan drone dilakukan di sekitar Air Terjun Situmurun sejauh 1,4 kilometer.
Pemantauan dilakukan sejauh 900 meter ke arah Desa Hutanamora dan 500 meter ke arah Desa Jonggi Nihuta. Namun, tidak ada tanda-tanda korban mengapung di permukaan danau,” jelasnya.
Selama tujuh hari pelaksanaan pencarian, tim gabungan telah melakukan upaya maksimal untuk menemukan korban.
Hingga sesi pencarian hari ketujuh berakhir pada waktu yang telah ditentukan, belum ditemukan tanda-tanda keberadaan korban maupun bukti yang dapat memberikan petunjuk terkait lokasi korban.
“Keluarga korban menerima hasil usaha pencarian yang telah dilakukan selama tujuh hari dan menerima penghentian pencarian dari Basarnas dan tim gabungan,” pungkasnya.
Upaya pencarian terhadap mahasiswa Fakultas Filsafat UNIKA ST tersebut telah dilakukan selama tujuh hari hingga Jumat (17/4/2026). Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena korban tidak ditemukan.
Pihak keluarga bersama kerabat, Sabtu (18/4/2026) menggelar ibadah di lokasi Air Terjun Situmurun yang menjadi tempat terakhir sekali Cristoper terlihat berenang. Selain melaksanakan ibadah, dilakukan juga penaburan bunga oleh pihak keluarga.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Toba, Sikkat Sitompul, menyebutkan upaya pencarian yang dilakukan tim gabungan sudah berakhir.
“Upaya pencarian telah dilakukan selama 7 hari. Korban tidak berhasil kita temukan meski segala daya upaya telah dilakukan. Maka proses pencarian berakhir, ” ungkapnya.
Kronologi
Sebelumnya diberitakan, peristiwa tenggelamnya Christoper terjadi pada Sabtu (11/4/2026) sekitar pukul 12.00 WIB. Mereka menggunakan Kapal Penumpang KM Sibole-Bole 01 Silima Lombu. Setibanya di sana, Christoper dan temannya berenang di Seputaran Jatuhan Air Terjun Situmurun.
Selang 20 menit kemudian, kaki Christoper kram hingga membuatnya tenggelam.
“Melihat hal itu (teman korban) langsung cepat mengambil pelampung dari kapal dan berenang menghampiri korban, tetapi korban sudah tidak terlihat lagi.
Setelah dilakukan pencarian korban belum ditemukan,” ujar Kasi Humas Polres Toba Ipda Khairuddin dalam keterangan tertulisnya, Minggu (12/4/2026).
Menerima informasi itu, personel Polsek Lumban Julu dan Basarnas Ajibata langsung melakukan pencarian menggunakan kapal boat dan juga menurunkan penyelam, tetapi belum membuahkan hasil.
Christoper tenggelam tepatnya di kawasan Air Terjun Situmurun, Toba. Peristiwa itu berawal saat rombongan mahasiswa Unika Medan melakukan rekreasi ke Air Terjun Situmurun pada Sabtu (11/4/2026).
Mereka berlibur usai selesai mengikuti rekoleksi frater di Silimalombu, Samosir.
“Rombongan bersama satu pendamping, Romo RD Ngadiono, menggunakan kapal penumpang KM Sibole-Bole 01 dari Silimalombu,” Kasi Humas Ipda Khairudin Sukriyatno, Selasa (14/4/2026).
Setibanya di lokasi, rombongan mahasiswa itu langsung berenang di sekitar Air Terjun Situmurun. Selang 20 menit kemudian, korban sudah tidak terlihat lagi bersama rekan-rekannya.
Sebelumnya, korban sempat mengaku kakinya mengalami kram. “Sebelum tenggelam, korban sempat bilang kakinya kram,” ujarnya.
Rekannya yang saat itu berenang bersama korban langsung mengambil pelampung dari kapal dan berusaha mencari keberadaan korban. Namun tidak kunjung ditemukan.
“Udah dicari, namun tidak ketemu juga kemudian mereka memanggil petugas SAR gabungan untuk melakukan pencarian,” ucapnya.
Mendapatkan informasi tersebut, polisi setempat dan Basarnas Ajibata langsung menuju ke lokasi dan kemudian melakukan penyisiran di permukaan danau. Petugas Basarnas juga melakukan penyelaman, hanya saja keberadaan korban belum ditemukan.
Tim penyelam dari TNI AL, Basarnas, BPBD Kabupaten Toba, dan PT Aqua Fam Nusantara yang berjumlah 5 (lima) orang melakukan penyelaman ke dasar air danau dengan kedalaman 50 meter.
“Tak berapa lama, tim penyelam kembali ke permukaan tapi korban belum ditemukan,” ujar Khairudin.
Di sisi lain, Tim SAR juga menggunakan drone udara untuk mencari titik lokasi korban menghilang.
Lingkup pencarian sejauh 1,4 kilometer dengan rincian 900 meter ke arah Desa Hutanamora dan 500 meter ke arah Desa Jonggi Nihuta. Namun tidak ada tanda-tanda korban mengapung di permukaan air danau,” kata Ipda Khairuddin.
Selain drone udara, drone bawah air juga dipakai untuk mencari tahu keberadaan korban.
“Dilakukan pemantauan di dalam air danau di sekitar lokasi Air Terjun Situmurun kedalaman 100 meter menggunakan alat drone kamera tapi korban belum berhasil ditemukan,” ujar Khairudin
Pihak keluarga pun sudah menerima operasi pencarian dihentikan. “Keluarga korban (juga) menerima hasil dari usaha pencarian yang telah dilakukan selama 7 hari dan menerima penghentian pencarian dari Basarnas dan tim gabungan,” ujar Khairudin sebagaimana dikutip dari Kompas.com. (red)
















