Pearaja, Tarutung (Metro IDN)
Sebagai gereja, Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) menyampaikan merespon terhadap meningkatnya ketegangan geopolitik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran di Timur Tengah.
Sebagaimana dilihat dari hkbp.or.id, Sabtu (25/4/2026), Ephorus HKBP, Pdt Dr Victor Tinambunan, MST, mengeluarkan Surat Pastoral Nomor 238/L.08/III/2026 pada awal bulan yang baru lalu.
Surat itu merupakan respons resmi gereja terhadap meningkatnya ketegangan geopolitik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran di Timur Tengah.
Dalam suratnya, Ephorus HKBP menyampaikan keprihatinan atas dampak kemanusiaan, sosial, dan ekonomi global yang ditimbulkan oleh konflik bersenjata tersebut.
HKBP menekankan, situasi dunia saat ini sangat kompleks dan sensitif, sehingga umat diminta untuk tidak terburu-buru memberikan penilaian emosional.
Ephorus juga menjabarkan lima poin sikap iman bagi jemaat dalam surat tersebut, yakni:
Berdoa dengan sungguh agar kekerasan segera dihentikan dan dialog damai dibuka.
Mendoakan pemimpin dunia agar diberi hikmat untuk mengutamakan kemanusiaan di atas kepentingan sempit.
Menghidupi nilai perdamaian mulai dari lingkungan keluarga, gereja, hingga lembaga pendidikan.
Menjaga kerukunan nasional dengan tidak menyebarkan hoaks atau ujaran kebencian yang dapat memecah belah persatuan di Indonesia.
Bersikap bijak dalam pengelolaan keuangan di tengah ketidakpastian ekonomi global akibat perang.
“Kita mungkin tidak memiliki kuasa untuk menghentikan peperangan dengan tangan kita. Namun kita memiliki kuasa untuk memilih sikap: tidak menyulut kebencian, tidak memperluas permusuhan, dan tetap menjadi pembawa damai,” tegas Pdt Victor Tinambunan dalam pesan tertulisnya.
Surat pastoral ini ditutup dengan kutipan ayat Alkitab dari Matius 5:9, mengajak seluruh jemaat untuk tetap berdiri teguh dalam iman, pengharapan, dan kasih di tengah gejolak dunia.
Pimpinan HKBP Suarakan Perdamaian
Sementara itu diberitakan harianSIB.com yang mengutip dari rekaman chanel
YouTube resmi HKBP, Ephorus HKBP, Pdt Dr Victor Tinambunan MST secara resmi menyuarakan sikap gereja, menolak perang dan tidak berpihak kepada satu negara atau blok militer mana pun.
Pernyataan itu mendapat perhatian luas dari jutaan jemaat serta masyarakat di seluruh Indonesia, Sabtu (25/4/2026).
“Kita berdiri teguh di pihak perdamaian, bukan sebagai sikap pasif yang lemah, melainkan sebagai pilihan moral yang berakar pada penghargaan mendalam terhadap martabat setiap insan. Setiap kehidupan adalah anugerah yang tak tergantikan,” tegas Pdt Tinambunan.
Ditegaskan, bahwa gereja memiliki mandat untuk menjaga kehidupan, dan karena itu menolak perang sebagai jalan penyelesaian konflik. Kasih, keadilan dan kebijaksanaan, menurutnya, adalah fondasi bagi dunia yang lebih beradab.
Ephorus juga mengingatkan dampak perang tidak akan berhenti di perbatasan negara-negara yang bertikai. Bagi jemaat dan masyarakat Indonesia, ancaman itu sudah terasa nyata melalui gejolak harga energi global.
“Bahan bakar terganggu, dampaknya akan ke negara lain juga. Kalau BBM naik, harga naik, ya dampaknya ke situ juga,” ujarnya.
Menurut dia, kenaikan harga BBM dunia berpotensi memicu inflasi harga kebutuhan pokok di pasar-pasar tradisional, yang pada akhirnya dapat mendorong meningkatnya angka kriminalitas dan kerawanan sosial di tengah masyarakat yang terhimpit secara ekonomi.
Pernyataan tegas Ephorus HKBP ini menjadi pengingat bahwa perdamaian memerlukan keberanian yang jauh lebih besar daripada peperangan.
Keadilan, kejujuran dan penghormatan terhadap nyawa manusia, dalam pandangan gereja, adalah syarat mutlak yang tidak bisa ditawar demi masa depan Indonesia dan dunia yang lebih beradab (red/HKBP.or.id/snn)

















