Heri menjelaskan bahwa secara kapasitas, UI sebenarnya mampu menampung hingga tiga kali lebih banyak mahasiswa dibanding jumlah saat ini. Namun, universitas berlogo makara emas itu memilih menjaga mutu dengan mempertahankan rasio dosen dan mahasiswa yang ideal.
“Makanya tadi untuk masuk UI rasionya kan sulit itu 1% lah kira-kira ya yang success rate untuk bisa berhasil masuk UI. Jadi kalau yang daftar 100 hanya 1 yang diterima gitu,” ujarnya.
“Universitas itu membantu, begitu dia berprestasi dapat beasiswa dia. Nah jadi UI itu menggaransi, menjamin siapapun anak bangsa dari Sabang sampai Merauke yang memiliki kemampuan dan prestasi dan kemudian mampu berkompetisi ya sehingga dapat diterima di sini dijamin diterima di sini,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan, ekosistem kampus juga menyiapkan dukungan finansial bagi mahasiswa kurang mampu agar tetap dapat menyelesaikan studi hingga lulus.
“Dan kemudian setelah diterima di sini apabila dia tadi apa tidak mampu gitu ya ekosistem kita akan membantu untuk kemudian mencarikan beasiswanya tadi ya sampai lulus,” pungkasnya.
UI menilai pembatasan kuota mahasiswa S1 sejalan dengan semangat menjaga mutu pendidikan, memastikan rasio dosen-mahasiswa ideal, dan membuka kesempatan setara bagi seluruh mahasiswa berprestasi di Indonesia.
Sebelumnya Rektor Paramadina, Prof Didik J Rachbini PhD beri usulan kepada Komisi X DPR RI agar kuota penerimaan mahasiswa baru (maba) S1 di perguruan tinggi negeri (PTN) dibatasi. Alih-alih terus menambah kuota S1, PTN diminta fokus pada riset dan menerima mahasiswa pascasarjana (S2 dan S3).
Mendengar hal tersebut, Kemdiktisaintek angkat bicara. Direktur Kelembagaan Kemdiktisaintek, Mukhamad Najib menjelaskan usul tersebut selaras dengan rencana Kemdiktisaintek.
Ke depan, Kemdiktisaintek memang akan membatasi jumlah kuota penerimaan jenjang S1 di PTN. Terutama untuk PTN yang punya status Berbadan Hukum atau PTN-BH.
“PTN-BH memang untuk jumlah S1 kita ingin batasi. Utamanya PTN-BH, tapi untuk perguruan tinggi negeri semua, jumlah rekrutmen mahasiswanya kita batasi,” kata Najib pada detikEdu usai acara Peluncuran Program Pendidikan Dokter Spesialis di Auditorium Al-Quddus Universitas YARSI, Jakarta, Kamis (12/2/2026). (detik.com/red)
















