Medan (Metro IDN)
SPEAK Sub-Nasional Sumut bersama Provincial Project Implementation Unit (PPIU) Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) Sumut, menggelar Pelatihan Strategi Komunikasi dan Penggunaan Media/Tool kits” di Hotel Camridge Jalan S Parman Medan, Rabu (7/10/2026).
Di hari pertama, Dr Oding Affandi SHut MP akademisi dari ruang virtual memberikan perspektif kritis mengenai masa depan rehabilitasi mangrove pasca-berakhirnya program M4CR.
“Pelatihan yang diselenggarakan SPEAK dan PPIU Sumut, langkah strategis memastikan capaian program tidak berhenti ketika pendanaan eksternal berakhir,” ujarnya.
Sementara Dr Meilinda Suriani Harefa, Founder & Executive Director Yayasan Konservasi Pesisir Indonesia (Yakopi) menyampaikan prinsip dasar komunikasi dan teknis fasilitasi di tingkat komunitas, yaitu komunikasi dari hati, belajar dari akar rumput.
Menurutnya, komunikasi yang efektif di tingkat tapak bukan sekadar soal penyampaian pesan, tetapi kemampuan mendengarkan, memahami konteks lokal, dan membangun kepercayaan bersama masyarakat.
Semangat itu terkonfirmasi saat sesi Zuwandi Tanjung, Ketua Kelompok Tani Hutan Bahagia Giat Bersama.
Ia cerita pengalamannya membangun kelompok dari nol melalui komunikasi yang kuat dan konsisten, di Desa Simandulang Kualuh Leidong Labuhanbatu.
Di hari kedua, Juliarti memperkenalkan berbagai toolkit dan materi komunikasi berbasis kearifan lokal yang telah dikembangkan secara partisipatif.
Menurut Juli, keberhasilan rehabilitasi mangrove di Sumut tidak ditentukan oleh kecanggihan kanal digital semata, melainkan kemampuan komunikasi yang menjembatani kepentingan ekologis, ekonomi tambak, status lahan, dan keberlanjutan jangka panjang.
“Ketika data bertemu dengan cerita manusia, dan ketika kebijakan bertemu dengan kearifan lokal, di situlah komunikasi menemukan makna sesungguhnya,” ujar Juliarti.
Sebelum menutup kegiatan pelatihan tersebut, Reza Nasution selaku ,Asisten Komunikasi dan Strategi PPIU/M4CR, juga menyampaikan paparan menjelaskan praktek penggunaan panduan komunikasi berbasis komunitas.
Ia juga menyebut peran media sangat strategis dalam berkomunikasi ke publik oleh karena itu media harus diberi data faktual yang lengkap untuk disiarkan ke publik.
Menurutnya, informasi tentang rehabilitasi mengrove itu, sebaiknya tidak seremonial tapi terus bergulir, mulai dari berita menanam bakau/ mengrove hingga pasca tanam, termasuk menginformasikan ekonomi, ketahanan pangan rakyat di pesisir kawasan bakau, harus sesuai fakta. (Rad)















